May 28, 2010

Jose Mourinho, 'Simalakama' Sepakbola Eropa


Seusai perhelatan final Liga Champions antara Inter Milan vs Bayern Munich sampai Piala Dunia 2010, fokus perhatian sepakbola akan tumpah kepada seputar masa depan Jose Mourinho.
Rabu, 26 Mei 2010, 15:36 WIB

Seusai perhelatan final Liga Champions antara Inter Milan vs Bayern Munich sampai pagelaran Piala Dunia 2010, fokus perhatian sepakbola akan tumpah kepada seputar masa depan Jose Mourinho. Ya, pria Portugal 47 tahun itu kembali menyita headline-headline media Eropa.

Tentu, berkat sukses besarnya mencetak La Seconda Grande Inter (Kejayaan Inter Milan jilid II) musim ini dengan menyambar treble winners: Liga Champions, Serie A dan Coppa Italia. Sukses besar yang justru membuat Presiden Inter, Massimo Moratti bak makan buah simalakama.

Moratti belakangan tentu susah tidur, karena dihadapkan pada pilihan yang sama-sama sulit. Sukses besar, tapi Mourinho pergi. Atau tak kunjung menyamai sukses besar Sang Kakek, Angelo Moratti dengan La Grande Inter era 1960an yang selalu menjadi mimpinya selama ini.

Ada satu hal lagi yang membuat Moratti bersedih. Mourinho akan pergi dengan 'melucuti' pasukannya. Mou akan membawa beberapa pilar pasukannya yang dianggap terbaik ke klub anyarnya (baca: Real Madrid). Seperti yang dilakukannya kepada FC Porto dan Chelsea.

Treble winners membuat Mourinho berhak mengklaim klausul yang memperbolehkannya hijrah ke klub lain. Dan ungkapan yang sering didengungkan Real Madrid kembali benar adanya.

"Jika Real Madrid sudah memanggil, pemain dan pelatih terbaik dunia akan sulit menolaknya."

Mourinho kini bak Sang Penguasa Laut asal Portugal di abad 15, Vasco da Gama. Bedanya, Mourinho ingin meluaskan jajahan di tiga Liga akbar di Eropa yang disebutnya sebagai Grand Slam: Inggris, Italia dan Spanyol. Sedangkan
Vasco menemukan jalan ke India dan Brasil.

Sukses di Inggris bersama Chelsea, di Italia bersama Inter, kini The Special One membidik Liga Spanyol lewat Real Madrid. Meski pria melankolis dan pragmatis itu sebenarnya tak tega menjadi playboy di klub-klub Eropa.

"Saya menangis ketika kembali ke Chelsea. Berat melawan mantan teman-teman saya. Air mata saya menetes saat itu," kata Mourinho ketika hadir kembali di Stamford Bridge bersama Inter guna menaklukkan The Blues.

Air mata Mourinho kembali menetes ketika Inter memastikan treble dengan menjuarai Liga Champions. Mourinho memberikan isyarat akan kembali meninggalkan orang-orang yang dicintainya.

Cinta Moratti & Roman

Mourinho sangat mencintai Presiden Massimo Moratti. Presiden yang tak pernah ikut campur soal teknis. Ibaratnya, "yang penting Inter juara. Kau ingin pemain mana saya beri uang untuk membelinya," begitu kata Moratti.

Mou juga mencintai para pemain Inter yang sangat respek padanya. Bahkan, si anak bengal Mario Balotelli yang belakangan dibuatnya insyaf.

Mourinho sangat mencintai Interisti. Seperti halnya kala ia mencintai fans The Blues dengan melemparkan medali yang diraihnya di Inggris ke kerumunan suporter di Stamford Bridge.

"Fans lebih berhak mendapatkan medali itu daripada saya," kata The Special One kala itu.

Mou hanya tak mencintai Presiden Chelsea, Roman Abramovich yang suka mencampuri urusan teknis. Meski saat itu Mourinho diberitakan pergi dengan mutual consent alias baik-baik. Inilah beda cinta Mou kepada Moratti dengan
Roman.

Tak aneh ketika Mourinho pun sampai tak bisa berkata-kata tegas menyampaikan pamit kepada Moratti saat diundang makan malam di rumahnya, Senin malam 24 Mei 2010 waktu Milan.

Madrid-Inter Atau Madrid-Chelsea

Kini, jadi menarik untuk memproyeksikan Real Madrid di bawah rezim Mourinho. Tentu, karena The Special One tak pernah kenal predikat Bintang, Galactico atau semacamnya.

Rezim Mou sangat keras. Pemain yang tak turut akan ditendangnya dari kamar ganti. Dan inilah pekerjaan rumah terbesar Mourinho: menyatukan kamar ganti Si Putih yang dipenuhi bintang-bintang penuh ego.

Juga menghindari bentrok dengan Direktur Umum Jorge Valdano. Selama ini tak dimungkiri jika posisi ini menjadi penghambat buat Real.

Karena Direktur Umum menentukan proses transfer pemain. Tak seperti di Inggris dengan fungsi manajer, pemain hadir di Santiago Bernabeu bukan sesuai kebutuhan pelatih.

Melainkan keinginan Direktur Umum maupun Presiden Florentino Perez. Jangan lupakan pula kehadiran Zinedine Zidane sebagai penasihat khusus Perez.

Jika di Italia, Mourinho harus bermusuhan dengan media, maka tiga figur inilah calon rival berat Mourinho. Meski itu bisa diakhiri dengan klausul-klausul serta perjanjian awal Mourinho dengan Real.

Apakah Mourinho di Real kelak akan seperti di Inter? Leluasa meracik strategi tanpa campur tangan figur lain. Atau ia selalu ditekan Perez seperti di Chelsea dengan pengaruh Abramovich yang sarat ambisi?

Yang jelas, Mourinho giliran menyita perhatian di Spanyol bersama galactico-galactico di langit biru Santiago Bernabeu. (rco)


Edwan Ruriansyah

No comments: