May 2, 2010

McClaren bawa Twente juara Eredivisie, from Zero to Hero



Pelatih Twente Enschede, Steve McClaren.
Saat Inggris kalah dari Kroasia di Wembley pada malam disiram hujan, itu artinya "The Three Lions" gagal ke putaran final Piala Eropa 2008. Dan, pelatih Inggris waktu itu, Steve McClaren, jadi bulan-bulanan publik dan media. Bahkan, banyak karikatur yang mengejek dan merendahkannya sebagai pelatih.
Seolah, McClaren terpuruk ke titik nol dalam karier kepelatihannya. Tujuh bulan kemudian, tepatnya pada uni 2008, dia melatih klub kecil belanda, Twente Enschede. Publik pun kembali mengejek dengan mengatakan bahwa kelasnya memang untuk klub seperti Twente.

McClaren pindah ke Belanda atas anjuran legenda sepak bola Inggris, Bobby Robson. Tokoh yang meninggal tahun lalu itu juga pernah menangani klub Belanda, PSV Eindhoven.

Minggu (3/5/2010), Thente mengalahkan NAC Breda 2-0. Ini menjadi titik balik buat McClaren juga klubnya. Dari titik nol, kini McClaren menjadi pahlawan. Setidaknya di belanda dan terkhusus lagi buat publik Twente. Sebab, dia membawa klub itu untuk pertama kalinya menjuarai Eredivisie (divisi teratas Liga Belanda).

"Saya kira, jika masih hidup, Boby Robson akan sangat bahagia dengan prestasi ini. Seperti keajaiban Twente bisa juara Eredivisie. Dari awal kompetisi, kami selalu berada di atas atau urutan kedua. Para lawan susah payah mengejar kami," kata McClaren.

"Setiap pekan kami harus memenangkan pertandingan. Sangat fantastis, para pemain mampu melewati perjuangan berat. Ini membuat saya sangat bangga," tambahnya.

Sentuhan McClaren benar-benar terbukti ampuh. Twente nyaris tak pernah diperhitungkan di Liga Belanda, kalah saing dair klub besar seperti PSV Eindhoven, Ajax Amsterdam, atau Feyenoord.

Sejak ditangan McClaren, klub ini makin diperhitungkan. Musim lalu, mereka berada di urutan kedua, kalah dari AZ Alkmaar. Selain itu, mereka juga masuk final Piala Belanda. Sayang, mereka kalah dari Heerenveen lewat adu penalti.

Namun, tahun ini mereka membayarnya dengan menjuarai Eredivisie. Sebuah prestasi terbesar karena pengalaman pertama Twente sepanjang sejarah mereka.

Maka, meski kontraknya hampir habis, McClaren tak mau diajak membicarakan masa depannya. "Ini bukan saat membicarakan masa depan. Sekarang saatnya menikmati kemenangan dan berpesta. Itu yang akan saya lakukan. Twente adalah klub fantastis dan kita akan lihat apa yang bisa dilakukan di masa depan," tegasnya.

No comments: